Messi Bukan (Pengganti) Maradona

Jumat, 11 Maret 2011
14 Juni 1982, Argentina akhirnya harus menyerahkan Pulau Malvinas di ujung tenggara Argentina kepada Inggris dalam Perang Malvinas/Falkland yang berlangsung selama kurang lebih 2 bulan. Rasa nasionalisme warga Argentina terkoyak menyaksikan pulau yang secara geografis milik mereka harus diserahkan kepada Inggris. Dendam itu masih terasa bahkan ketika hubungan diplomatik Argentina-Inggris pulih pada tahun 1989.




2 Juli 1982-Estadio Sarria, harapan orang Argentina agar tim nasional sepakbola mereka dapat mengulang prestasi 4 tahun sebelumnya, menghadapi jalan berat melawan Brazil. Harapan itu salah satunya ditumpukan pada seorang pemuda kecil dan gempal berumur 22 tahun asal klub Boca Juniors. Pada menit ke-85 babak kedua, Phase Kedua Group 3, Si Boncel bernama Diego Armando Maradona melayangkan kakinya ke perut center-back Brazil, Serginho. Maradona akhirnya keluar lapangan sambil menangis tersedu karena dikartumerahkan wasit Mario Vasquez. Wajahnya tertunduk lesu, dan pudarlah harapan orang Argentina menghapus kesedihan mereka setelah dikalahkan Inggris di Malvinas.
22 Juni 1986-Estadio Azteca, Si Boncel kembali memberi harapan pada rakyat Argentina, dan kali ini dengan tujuan membalas dendam kekalahan 4 tahun lalu di Malvinas. Babak Perempat Final Piala Dunia 1986 mempertemukan Argentina melawan Inggris. Dan disitulah tercipta 2 buah gol yang akan selalu dikenang dalam sejarah sepakbola dunia :
Si Boncel itu tidak bisa melompat lebih tinggi dari Peter Shilton“. Demikian kata pemain-pemain Inggris mengomentari gol tangan tuhan Maradona. Tapi, dendam itu terbalas sudah, dihadapan musuh mereka dan juga dengan cara yang sangat fantastik.
Di Final pada tanggal 29 Juni 1986-Estadio Azteca, kembali Maradona menangis tapi kali ini adalah tangis kebahagiaan. Argentina merebut kembali trophy Piala Dunia 1986 setelah mengalahkan Jerman (Barat) dengan skor 3-2. Wajahnya yang bulat bergelimang air mata ketika dirinya diarak oleh teman-temannya sambil mengangkat piala itu tinggi-tinggi. Rakyat Argentina bersorak, turun ke jalan-jalan, dan menari serta menyanyi semalam suntuk, sembari melupakan kesedihan mereka 4 tahun yang lalu di Malvinas.


*****************


Argentina adalah sebuah negara di ujung selatan benua Amerika Latin yang kurang lebih 93% penduduknya beragama Katolik Roma. Tapi “agama kedua” mereka adalah Sepakbola. Dengan sepakbola, rakyat Argentina sejenak melupakan kondisi ekonomi mereka yang belum kunjung membaik dan kondisi politik yang dipenuhi dengan kudeta berdarah. Dengan kata lain, identitas nasional rakyat Argentina adalah sepakbola.
Jika sepakbola adalah Agama Kedua setelah Katolik Roma bagi orang Argentina, maka tak diragukan lagi, Si Boncel, Diego Armando Maradona adalah Sang Dewa, Dewa Segala Dewa Sepakbola bagi rakyat Argentina. Bahkan bagi beberapa orang, Maradona adalah Sang Nabi, bahkan ada yang memujanya lebih daripada itu dengan mengatakan Maradona adalah Titisan Tuhan.
Begitu tingginya pemujaan rakyat Argentina pada legenda hidup sepakbola mereka memang dapat dimengerti. Maradona-lah yang mengembalikan keterpurukan kebanggaan identitas nasional mereka setelah kekalahan menyakitkan pada Perang Malvinas, 1982. Seorang Maradona mampu membuat mereka menari-nari semalam suntuk dan sejenak melupakan segala macam kesedihan dan himpitan hidup mereka.
Maradona adalah (Sepakbola) Argentina
Dan sampai sekarang, rakyat Argentina masih terus mencari pengganti Sang Dewa mengembalikan kejayaan sepakbola mereka. Mereka rindu melihat pemain-pemain Argentina lainnya menjadi pengganti seorang Maradona.


*****************


Harapan itu mulai muncul menyaksikan seorang pemuda berusia 19 tahun dengan tubuh yang sama kecilnya dengan Maradona, mulai memperlihatkan aksinya di sebuah klub ternama Liga Spanyol, Barcelona. Si kecil nan lincah itu menari-nari dengan tarian tango ala Argentina, menggocek lawan-lawannya, dan menggiring bola bukan seperti anak yang baru belajar bermain bola. Hampir semua orang terperangah dan akhirnya berkomentar, Inilah pengganti Sang Dewa.
messi
Lionel Andres Messi


Lionel Andres Messi, lahir pada tanggal 24 Juni 1987 di Rosario, Provinsi Santa Fe, Argentina. Klub-klub yang pernah dibelanya antara lain Grandoli dan Newell’s Old Boys. Pada tahun 2004 dia dikontrak oleh salah satu klub terbaik dunia, FC Barcelona dan menjadi aset terbaik klub itu hingga saat ini.
Bagi saya pribadi, Messi adalah tipikal pemain dengan gocekan maut ala Maradona dan otak jenius ala Zinedine Zidane. Dengan kaki kiri yang dominan, dia mempunyai gaya bermain yang mirip dengan Maradona, kecuali dalam hal posisi. Maradona adalah tipe Playmaker/Striker sementara Messi bertipe Winger/Striker.
Kejeniusan ala Zidane diperlihatkannya dengan menunjukkan visi permainan yang sangat tajam. Umpan-umpan-nya akurat dan penyelesaian akhirnya juga maut. Yang membedakan Messi dengan Maradona dan Zidane adalah Messi bukan tipe sorang pemimpin di lapangan. Atau sampai saat ini kepemimpinannya terhadap tim belum kelihatan, sementara Maradona dan Zidane adalah pemain-pemain hebat dengan kepemimpinan yang juga hebat.
Banyak orang yang mengatakan bahwa Messi adalah pengganti Maradona. Bahkan seorang Maradona pernah mengatakan bahwa Lionel Messi adalah penggantinya. Ketika Lionel Messi mencetak gol “Tangan Tuhan Edisi Kedua” pada pertandingan antara Barcelona vs Espanyol, tanggal 9 Juni lalu, orang-orang lalu menyamakannya dan menyejajarkannya dengan Sang Dewa. Gol itu mengingatkan orang pada gol tangan tuhan Maradona 21 tahun yang lalu.

Benarkah Messi pengganti Maradona ?
Bagi saya, Messi bukan pengganti Maradona. Bukan Messi, bukan Riquelme, bukan Aimar, bukan D’Alessandro, bukan Gago, dan bukan siapapun di Argentina dan di dunia ini. Tak ada seorang-pun yang bisa menggantikan seorang Maradona. Maradona adalah Maradona dengan segala skill, kelincahan, temperamen, sifat dan karakter, serta kecanduannya terhadap kokain. Maradona tidak untuk ditiru dan tidak untuk digantikan. Dia adalah pemain yang unik dan berkelas dan butuh waktu lama untuk mencari orang dengan kemampuan yang setara dengannya.

Maradona tak tergantikan, bahkan dia tak tergantikan walaupun pemain seperti Messi mempertunjukkan cara mencetak gol ala Maradona. Walaupun Messi mencetak gol tangan Tuhan seperti Maradona, bukan serta merta membuat dia adalah pengganti Maradona. Messi adalah salah satu pemain sepakbola di dunia ini yang terinspirasi oleh Maradona, dan banyak pemain di dunia ini yang demikian.
Messi mempunyai karakter yang berbeda dengan Maradona. Sampai saat ini dia masih seorang anak manis yang belum terpengaruh apa-apa. Sementara Maradona adalah pribadi yang unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya baik di lapangan maupun di luar lapangan. Karakter itu tidak untuk digantikan dan ditiru.
Jalan Messi masih panjang untuk menapak kesuksesan seperti Sang Dewa. Jika Messi menjadi pengganti Maradona, orang-orang akan mengenalnya bukan sebagai seorang karakter yang unik dan berbeda. “Messi pengganti Maradona” hanyalah seorang pemain yang hidup, tumbuh dan berkembang dibawah bayang-bayang kebesaran dan kesuksesan Sang Dewa. Dia bukanlah dirinya sendiri. “Messi Pengganti Maradona” hanyalah seorang Pengganti, bukan Maradona, bukan juga karakter dirinya yang sebenarnya.
Biarlah Messi akan dikenang dalam sejarah sepakbola sebagai seorang Lionel Messi. Bukan hanya sebagai pengganti seorang pemain besar. Dia akan dikenal karena dia menunjukkan kemampuan dirinya tanpa merasa bahwa dirinya hanyalah seorang pengganti kebesaran Sang Dewa. Tak ada seorangpun yang bisa menggantikan yang lain secara sempurna, karena setiap orang (termasuk pemain bola) mempunyai karakter yang sangat berbeda.

0 komentar:

Posting Komentar